Sunday, January 10, 2010

awang uwungSunday, January 10, 2010 ,

Indonesia dalam Belenggu Kaliyuga

Oleh Musyafak Timur Banua

Kaliyuga adalah wolak-waliking jaman. Sebuah babak kehidupan yang menurut Ranggawarsita (1802-1874) adalah zaman kehancuran: runtuhnya tatanan kehidupan dan kegelapan budi pekerti. Dimensi kehidupan yang berbalik arah, ibarat lautan yang balik mengalir ke sungai.

Ranggawarsita menggambarkan kondisi Kaliyuga dalam serat Kalatida atau puisi zaman gelap. Mangkya darajating praja/ kawuryan wus sunya ruri/ rurah pangrehing ukara/ karana tanpa palupi (tatkala derajat kerajaan sudah senyap, aturan kacau, tiada kejernihan nalar, suasana seperti gila).

Meskipun ikrar merdeka diproklamasikan oleh Soekarno-Hatta saat era kejatuhan Jepang dari Sekutu, tetapi sampai kini zaman gelap tetap berlangsung. Enam puluh tiga tahun merdeka dan seabad Kebangkitan Nasional, Indonesia sebatas lepas dari penjajahan fisik.

Kini "Republik Bayangan" ini terjajah oleh dirinya sendiri: kedaulatan rakyat dirampas oleh negara-dalam artian para pemimpin dan pemerintah kita. Ini berbalik dengan cita-cita Moh Hatta, bahwa yang diinginkan ialah rakyat yang memiliki kedaulatan, bukan negara yang memiliki kedaulatan, (Harian Merdeka, 27 Oktober 1950).

Kebijakan yang tidak populis bertubi-tubi mendera rakyat. Tahun 2008 ini ditandai kenaikan BBM yang selalu menjadi kisruh politik bangsa. Elpiji yang dengan “gagah berani” ditampilkan sebagai "penghapus" minyak tanah justru menjadi beban rakyat kecil. Di tengah situasi ekonomi bangsa yang makin termehek-mehek, anehnya privatisasi lembaga usaha milik negara dikedepankan.

Siklus Kaliyuga
Menurut Dr. Sjahrir, istilah Kaliyuga sungguh tepat untuk menggambarkan keadaan Indonesia saat ini. Dalam pidato politiknya pada deklarasi perkumpulan politik Perhimpunan Indonesia Baru (PIB) 22 Maret 2001 silam, ia menyatakan bahwa Indonesia memang sedang menuju kehancuran total sebagai sebuah bangsa.

Bagi akademisi yang memahami sejarah secara spekulatif, Kaliyuga adalah siklus sejarah. Setelah zaman kehancuran itu akan hadir Kertayuga atau Kalakerta. Sebagian meyakini kalau Kaliyuga adalah prasyarat hadirnya jaman kertayuga: suatu zaman emas atau gemilang. Sebuah masa yang digambarkan dengan loh jinawi gemah ripah tata tentrem kerta raharja.

Negarakertagama karya Empu Sotasoma mencatat bahwa Kertanegara hidup dalam zaman Kaliyuga. Ia gila terhadap perluasan kekuasaan, tetapi politik domestik kacau-balau. Diterangkan dalam Kidung Panji Wijayakrama, bahwa Raja Singasari yang memerintah mulai tahun 1270 itu kehilangan watak ber budi bawa leksana.

Menurut Anwar Hudijono (2000), sejarah tidak selalu dipahami sebagai garis yang menghubungkan titik-titik kemajuan. Ada yang memahami sebagai cakra manggilingan (roda yang berputar). Zaman Kaliyuga sesuai kehendak jagat pernah hadir sebelum Kertanegara.

Oleh karenanya, dalam perspektif kontinuitas, sebagai sebuah siklus Kaliyuga terjadi secara berulang-ulang. Setiap pergolakan kepemimpinan, Kaliyuga bisa muncul.

Hal ini dapat dilihat dalam Kakawin Bharatayudha karya Empu Sedah dan Empu Panuluh yang sudah ada jauh sebelum Negarakertagama. Tewasnya Raja Suyudana dari Astina dalam perang Baratayuda melawan Pandawa adalah gambaran berakhirnya Kaliyuga. Hingga tak ada lagi kekhawatiran akan ulah penguasa yang berbuat "rusak".

Di zaman yang berbeda pula, H. J. De Graaf menggambarkan betapa rakyat Mataram hidup dalam teror di bawah kekuasaan Amangkurat I. Raja Mataram yang memerintah mulai tahun 1646 itu haus akan kekuasaan hingga menyingkirkan saudara-saudaranya besrta ulama dengan pertumpahan darah. Saat itulah sosok raja tidak lagi menjadi air bagi yang kehausan, juga bukan obor bagi yang kegelapan.

Sejarah Orde Baru adalah salah satu pertanda Kaliyuga di zaman pasca kolonial Indonesia. Sejarah politik penguasa kembali pada penidasan rakyat. Demokrasi dibungkam, yang berbicara hanya "sabda ratu" yang tidak manunggal dengan rakyat.

Sepuluh tahun Reformasi berjalan tak berhasil mengantarkan bangsa ke Kertayuga. Seolah tidak ada niatan yang bulat dan ikhlas untuk menyembuhkan bangsa yang sedang sakit ini. Sebaliknya, sebagian malah terninabobokkan kegelapan itu sendiri.

2008 disebut sebagai tahun korupsi karena sederet nama anggota dewan "Yang Terhormat" masuk dalam daftar penerima kucuran uang haram. Lebih menampar, Jaksa "Yang Mulia" pun kongkalikong dengan musuh hukum karena suap "menggiurkan".

Inilah Kaliyuga di zaman postmodern. Ironi bangsa tumbuh di mana-mana. Pemimpin yang seharusnya mengabdi justru menjajah rakyatnya sendiri.

Merebaknya Mesianisme

Yang lebih ironis, di tengah situasi politik bangsa yang karut marut tak menentu, banyak orang mengaku sebagai Satria Piningit atau Ratu Adil. Seperti inilah keyakinan politik bangsa Indonesia yang kental dengan mesianisme.

Menjelang Pemilu 2009 ini, para politisi sudah memproklamasikan dirinya mampu menjadi pemimpin bangsa yang sedang kalut ini. Bermodal rasa percaya diri –setengah angkuh— mereka berkampanye akan mengentaskan penderitaan rakyat.

Dalam konteks terkini, pantaskah para calon pemimpin menyandang gelar Satria Piningit atau Ratu Adil yang menyerupai kuasa Imam Mahdi atau Mesias –sosok yang diyakini oleh umat Islam dan Kristen sebagai pembebas manusia tatkala kezaliman mendominasi kehidupan di bumi.

Jawabannya tidak. Kebanyakan calon pemimpin –dan pemimpin yang ada sampai saat ini— tidak berwibawa. Dalam arti tidak mampu memberikan uswah (teladan) bagi rakyat. Idealisme pemimpin kita nihil, dan visi kerakyatannya patut dipertanyakan.

Makna politik makin sempit karena dalam prakteknya sebatas perebutan kekuasaan kaum elit. Sedangkan kesejahteraan rakyat kurang diperhatikan. Semua mengaku mampu menyelesaikan pekerjaan rumah bangsa yang menumpuk, tapi citra dan kualitasnya di lapangan tidak tertepis.

Persis seperti yang digambarkan oleh Ranggawarsita dalam Serat Kalatida pada pupuh (bait) 7: hamenangi jaman edan/ewuh aya ing pambudi/melu edan ora tahan/yen tan melu anglakoni/boya kaduman melik/kaliren wekasanipun (hidup di zaman edan/mengacaukan akal budi/ikut edan mana tahan/kalau tak ikut tak dapat apa-apa/akhirnya kelaparan).

Menurut Pujangga asal Keraton Surakarta itu, ada tiga kegilaan manusia yang hidup di zaman edan. Yaitu gila harta, tahta, dan wanita. Tahta dan harta memang kini membius pemimpin-pemimpin kita. Buktinya perilaku korup dan menyimpang semakin subur.

Saatnya masyarakat mencerna jargon-jargon yang mengatasnamakan Ratu Adil secara kritis dan rasional. Mesianisme dalam panggung politik Indonesia terkini adalah dalil empuk untuk mengelabuhi masyarakat yang percaya dengan mitologi kepemimpinan itu.

Berkaitan dengan momentum kemerdekaan ini, lebih penting adalah memerdekakan diri dari penjajahan mental pribadi. Korupsi dan perilaku menyimpang –sekecil apapun, baik rakyat maupun pejabat— adalah tuan yang menjajah/memperbudak jiwa. Ia menjadikan jiwa menjadi tumpul, mata batin dibutakan. Permasalahan pemimpin kita sekarang adalah ketidakmampuan mengahalau nafsu kebendaan dan ingkar terhadap kebenaran manusiawi.

Hal ini sesuai dengan penutup puisi Ranggawarsita tadi: ndilalah karsa Allah/ begja-begjaning kang lali/ luwih begja kang eling lawan waspada. Bahwa yang paling beruntung adalah orang-orang yang selalu ingat terhadap keadaan serta sadar betul akan misi kemanusiaan yang diemban untuk menjaga kelangsungan bangsa. Jika tidak, Kaliyuga adalah zaman yang kekal.

Tulisan ini dimuat di Harian Suara Merdeka Online 19 September 2008
Lihat link terkait di Harian Suara Merdeka

share this :

0 komentar:

Post a Comment